Rabu, 04 April 2018

KONSTRUKSI RUMAH ADAT BATAK TOBA

LATAR BELAKANG

Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dengan kebudayaan yang beraneka ragam, sejalan dengan itu, bangunan-bangunan terutama rumah adat yang bersifat tradisional sangat beraneka ragam pula,mulai dari bentuk yang sederhana hingga yang berbentuk unik, baik berdiri sendiri maupun yang berkelompok, masing-masing mempunyai ciri khas tersendiri (Julaihi Wahid, 2013).
Bangunan tradisional umumnya berbentuk rumah pangggung yang terbuat dari material kayu, pada bagian bawah bangunan rumah panggung terdiri dari kolom dan balok kayu yang berdiri kokoh menopang bangunan atasnya. Kolom dan balok
Dalam penelitian ini akan dibahas tentang sambungan kayu pada Rumah adat Batak Toba. Penelitian ini dilakukan di Desa Siallagan, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Pemilihan tempat ini karena di daerah ini masih memiliki rumah adat yang berumur tua yang tidak mengalami perubahan strukturnya atau rekonstruksi rumah adat yang mengikuti desain rumah masa kini
Gambar 1.1 Rumah Bolon
Sambungan kayu adalah sebuah konstruksi untuk menyatukan dua atau lebih batang kayu untuk memenuhi kebutuhan panjang, lebar atau tinggi tertentu dengan bentuk konstruksi yang sesuai dengan gaya-gaya yang akan bekerja pada batang kayu tersebut sesuai penggunaan konstruksi kayu tersebut. Hubungan kayu adalah dua batang kayu atau lebih yang dihubung-hubungkan menjadi satu benda atau satu bagian konstruksi dalam satu bidang berdemensi dua maupun dalam satu ruang berdemensi tiga.
Penelitian tentang sambungan pada struktur kayu dan sejenisnya merupakan topik yang paling menarik untuk diteliti dari sejak lama hingga saat masa-masa yang akan datang. Permasalahan sambungan pada struktur kayu dan sejenisnya terjadi karena keterbatasan sifat mekanika dan ukuran, sedangkan tuntutan geometrik (bentuk dan dimensi struktur) berkembang pesat.
Sebuah sambungan pada suatu konstruksi bangunan baik itu dari beton, baja maupun dari kayu merupakan suatu titik terlemah pada konstruksi tersebut. Oleh sebab itu dalam melaksanakan penyambungan harus memperhatikan syarat-syarat ukuran sambungan dan gaya-gaya yang akan bekerja pada sambungan tersebut.
Gambar 1.2 Sambungan kayu pada Rumah Bolon
gaya-gaya yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:

Gaya Tarik

Bila yang bekerja gaya tarik, maka sambungan kedua batang kayu tersebut harus saling mengait agar tidak mudah lepas, misalnya memakai sambungan bibir miring berkait.

Gaya Desak (Tekan)

Bila yang bekerja gaya desak, maka sambungan kedua batang kayu diusahakan agar permukaan batang yang akan disambung saling menempel rapat. Misalnya memakai sambungan lurus tekan.

Gaya Lintang dan Momen

Bila yang bekerja gaya lintang dan momen, maka gaya lintang akan menyebabkan sambungan akan saling bergeser sedang momen akan menyebabkan suatu lenturan. Maka dalam hal ni sambungan harus kuat dan kaku misalnya memakai sambungan pengunci.

Gaya Puntir

Bila sambungan atau hubungan ada gaya puntir, maka sambungan kedua batang kayu harus saling mencengkeram agar tidak mudah terjungkit lepas misalnya memakai sambungan tarikan lurus rangkap untuk sambungan tiang dan hubungan pen dan lubang untuk hubungan sudut.